Bahasa Jepang menggunakan tiga jenis huruf, yaitu:
Hiragana (ひらがな)
Katakana (カタカナ)
Kanji (漢字)
Berbeda dengan bahasa Indonesia yang hanya menggunakan satu jenis huruf (alfabet), bahasa Jepang menggunakan tiga jenis huruf sekaligus dalam satu kalimat. Ketiga huruf tersebut memiliki fungsi yang berbeda sehingga saling melengkapi.
Bahasa Jepang memiliki banyak kata, tata bahasa, dan pengaruh dari bahasa asing. Oleh karena itu, satu jenis huruf saja tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan penulisan.
Kanji digunakan untuk menunjukkan makna kata dengan lebih jelas dan singkat.
Hiragana digunakan untuk tata bahasa serta kata-kata asli Jepang.
Katakana digunakan untuk kata-kata yang berasal dari bahasa asing dan penulisan khusus.
Dengan adanya pembagian ini, kalimat bahasa Jepang menjadi lebih mudah dibaca dan dipahami.
Hiragana adalah huruf dasar bahasa Jepang yang pertama kali dipelajari oleh pemula.
Fungsi Hiragana:
Menulis kata asli Jepang.
Menulis partikel (は、を、に、で, dll.).
Menulis akhiran kata kerja dan kata sifat.
Menulis cara baca Kanji (furigana).
Contoh:
わたし (watashi)
たべます (tabemasu)
ありがとう (arigatou)
Katakana digunakan untuk menulis kata yang berasal dari bahasa asing.
Fungsi Katakana:
Menulis kata serapan dari bahasa asing.
Menulis nama orang asing.
Menulis nama negara asing.
Menulis istilah ilmiah dan teknis.
Memberikan penekanan pada suatu kata.
Contoh:
インドネシア (Indonesia)
テレビ (televisi)
コンピューター (komputer)
Kanji adalah huruf yang berasal dari Tiongkok dan digunakan untuk menunjukkan makna suatu kata.
Fungsi Kanji:
Menunjukkan arti kata dengan jelas.
Membuat tulisan menjadi lebih singkat.
Membantu membedakan kata yang cara bacanya sama tetapi maknanya berbeda.
Contoh:
人 (orang)
山 (gunung)
学生 (siswa)
日本 (Jepang)
Pada zaman dahulu, Jepang belum memiliki sistem tulisan sendiri. Karena itu, Jepang menggunakan huruf Tiongkok (Kanji) yang masuk ke Jepang sekitar abad ke-4 hingga ke-5 Masehi melalui perdagangan, hubungan diplomatik, dan penyebaran agama Buddha. Inilah alasan mengapa Kanji Jepang terlihat sangat mirip dengan huruf Tiongkok. Awalnya, orang Jepang bahkan menulis menggunakan bahasa Tiongkok karena belum ada sistem untuk menuliskan bahasa Jepang. Namun, bahasa Jepang memiliki tata bahasa yang berbeda dengan bahasa Tiongkok sehingga penggunaan Kanji saja terasa sulit. Oleh karena itu, masyarakat Jepang mulai mencari cara yang lebih mudah untuk menulis bahasa mereka sendiri.
Pada sekitar abad ke-9 (Periode Heian), beberapa bentuk Kanji mulai disederhanakan menjadi tulisan yang lebih mudah ditulis. Tulisan ini kemudian berkembang menjadi Hiragana. Pada masa itu, Hiragana banyak digunakan oleh perempuan bangsawan karena perempuan tidak selalu mempelajari bahasa Tiongkok klasik seperti laki-laki. Oleh sebab itu, Hiragana pernah disebut onnade (女手) yang berarti "tulisan perempuan". Salah satu karya sastra terkenal yang ditulis menggunakan Hiragana adalah Genji Monogatari karya Murasaki Shikibu.
Pada masa yang hampir sama, para biksu dan pelajar laki-laki membutuhkan cara yang lebih praktis untuk memberi catatan saat mempelajari teks Kanji. Mereka mengambil sebagian bentuk Kanji dan menjadikannya simbol yang lebih sederhana. Dari sinilah lahir Katakana.
Karena awalnya banyak digunakan di lingkungan pendidikan dan keagamaan yang didominasi laki-laki, Katakana sering dianggap sebagai "tulisan laki-laki" pada masa itu.
Saat ini Jepang menggunakan ketiga jenis huruf tersebut secara bersamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh:
わたしは インドネシア の 学生 です。
Keterangan:
わたしは → Hiragana
インドネシア → Katakana
学生 → Kanji
Dalam satu kalimat, ketiga jenis huruf dapat muncul secara bersamaan karena masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Sistem penggunaan Hiragana, Katakana, dan Kanji mulai berkembang sejak sekitar abad ke-9 dan terus digunakan hingga sekarang sebagai sistem penulisan resmi bahasa Jepang.
Hiragana → untuk tata bahasa dan kata asli Jepang.
Katakana → untuk kata serapan dari bahasa asing.
Kanji → untuk menunjukkan makna kata.
Ketiga jenis huruf tersebut digunakan bersama-sama sehingga membentuk sistem penulisan bahasa Jepang yang digunakan hingga saat ini.